Kuliah Setelah Menikah

studying__together_by_princesskaoru-d6n4ji8

Melanjutkan kuliah setelah menikah merupakan pilihan yang tidak gampang buat kita, apalagi sebelumnya kita sudah bekerja di suatu instansi dan memiliki income setiap bulannya. Dalam kondisi tersebut, kuliah bisa jadi hanya sekedar angan bukan pilihan. Siapa sih yang mau keluar dari kemapanan? Jawabannya, ada saja yang mau keluar dari kemapanan, menuju tahap pendewasaan berikutnya. Pada hakikatnya, hidup itu harus bergerak, biar kita bisa maju. Layaknya naik sepeda, kalo kita diam saja (stagnan) kita bisa jatuh. Tapi, kalo kita bergerak terus, sepeda akan bergerak maju. Kita akan maju dan seimbang. Dan kalian, bisa memilih apa saja untuk mendewasakan diri dan untuk bergerak maju. Dalam hal ini, kami memilih melanjutkan studi. Kalo diantara kalian merasa related dengan kondisi ini, silakan baca postingan ini sampai selesai yaa.

Buat gue dan suami, kuliah menjadi pilihan untuk mendewasakan diri kita, dan menjadi pilihan agar kita bisa terus maju, ga cuma diam di satu tempat. Pilihan ini muncul setelah kami menjalani berbagai kontemplasi di setiap momen hidup yang kami jalani. Belajar emang ga melulu di dalam suatu institusi. Belajar bisa kita lakuin kapanpun, dimanapun, bersama siapapun. Tapi, kuliah di kampus itu mendorong kami untuk jauh lebih produktif belajar dan melakukan banyak hal, ketimbang menyisihkan sedikit waktu untuk baca buku.

Apa sih yang membedakan kuliah setelah menikah itu? Kalo menurut gue, adalah sumber daya manusianya. Menikah berarti menambah 1 kepala lagi yang punya pikiran berbeda dari kita. Tantangannya adalah bagaimana menyelaraskan rencana hidup pribadi dengan langkah gerak si pasangan. Kita pun perlu mendiskusikan timeline hidup pribadi dengan pasangan. Tentunya, kita harus mengatur keuangan rumah tangga untuk merencanakan itu semua. Ini merupakan kegiatan yang susah – susah gampang.

Tiap pasangan punya sistem manajemen keuangan yang beda – beda ya. Yang popular itu adalah uang suami adalah uang istri, uang istri adalah uang istri juga, bener ga? Gue, pribadi, ga setuju akan hal itu. Bisa ga kita simpulkan dari manajemen keuangan tersebut di atas, bahwa keuangan itu yang mengurus cuma istri? Terus suami udah pusing kerja cari uang, ga mau mikirin pengaturan uang? Yakin nih? Bukannya pola seperti ini menjurus ke komunikasi tidak terbuka ya? Bisa aja kan suami ngasih uang ke istri ga seluruhnya tapi ngakunya udah seluruhnya dikasih ke istri. Bisa aja kan istri ngatur keuangan rumah tangga, tapi kebutuhan rumah tangganya ga diprioritaskan. Mendingan kita terbuka aja satu sama lain, apa yang kita perlukan secara pribadi, dan kita mau itu dipenuhi terlebih dahulu, baru mikirin rumah tangga. Menurut gue, kita perlu ruang egois buat diri kita sendiri walaupun kita dalam ikatan pernikahan, dan sangat penting juga hal itu kita komunikasikan ke pasangan.

Dalam rumah tangga gue dan pasangan, kami ga punya kontrak pra nikah yang mengikat, apalagi yang membahas soal keuangan, karena kami ga memerlukan itu. Jika kalian memerlukan kontrak itu, go for it! I don’t judge anything. Prinsip kami adalah siapa yang mampu dan perlu bekerja, silakan bekerja. Tidak ada batasan karena gue adalah istri berarti harus di rumah mengurus hal domestik. Dalam kondisi kami berdua sama – sama punya income bulanan, kami masing – masing menyisihkan uang untuk diri sendiri, dan untuk rumah tangga. Misalnya, tiap bulan itu gue menyisihkan uang pribadi untuk beli skincare, untuk make up, dan untuk hobi gue (ya beli benang atau beli alat rajut baru), sisanya adalah untuk rumah tangga. Suami gue pun menyisihkan uang pribadinya untuk beli kopi (ini ga masuk anggaran belanja bulanan, karena cuma dia yang minum kopi di rumah hahaha), untuk beli buku yang mau dia baca, dan beli perintilan lainnya yang menurut dia itu penting, sisanya untuk rumah tangga. Porsi keuangan untuk rumah tangga ini kami atur bersama, gimana?

  1. Membagi anggaran berdasarkan keperluan.

Maksudnya, dalam sebulan itu pengeluaran reguler apa saja yang kita perlukan, nah anggaran itu dibagi ke sebanyak pengeluaran itu. Misalnya, tiap bulan kita perlu bayar listrik, servis bulanan kendaraan, bayar pajak, bayar sewa rumah (untuk para nomaden dan kontrak-tor), dan belanja konsumsi. Dari situ, kita tau dong berapa nominal uang untuk keperluan – keperluan tersebut. Kita jumlahin aja berapa nominal uang itu. Income kita disisihkan untuk jumlah tersebut. Jadi, kita ga menghabiskan semua income kita secara regular, tapi kita hanya menyisihkan sebagian uang untuk pengeluaran yang regular diperlukan tiap bulan. Perlu digarisbawahi ya, yang diperlukan. Kalo ga perlu ya berarti ga usah dijadikan keperluan, ini berarti sifatnya primer.

  1. Menabung sesuai rencana

Sisa uang dari keperluan regular tadi ditabung untuk hal yang kita rencanakan. Rencana – rencana ini, entah itu jangka pendek, menengah atau jangka panjang, harus kita diskusikan dengan pasangan secara terbuka. Nah setelah diskusi, kita rinci tuh rencana kita apa aja, dan prioritaskan. Misalnya, gue pribadi punya rencana beli laptop, berarti gue kudu menentukan berapa nominal yang gue perlukan untuk beli itu dan berapa nominal yang bisa sisihkan tiap bulan. Termasuk, perencanaan kuliah bisa kita mulai untuk tabung tiap bulannya. Oiya, jangan lupa kita juga harus nabung untuk kejadian tak terduga, misalnya sakit, infaq untuk korban bencana, atau ditilang polisi.

  1. Less is more

Belajar untuk hidup minimalis. Semakin kita tau apa yang sebenernya kita perlukan, semakin kita mengenal pribadi kita. Ga jarang kita ga bisa mendeteksi kemauan kita itu apa, hanya karena kita ga punya waktu buat diri kita sendiri. Luangkan waktu buat kita merenung, sebenernya sebagai manusia itu kebutuhan kita apa aja. Apa kita yakin kita butuh spa tiap bulan ke salon? Apa bener hal itu ga bisa digantikan dengan beli skincare dan melakukan treatment mandiri di rumah? Apa perlu kita beli make up yang high end kalo make up yang dari drug store itu ga bikin kita jerawatan? Dengan mengenal diri kita dengan baik, kita bisa tau apa yang kita perlukan dengan baik. Yang perlu kita nilai adalah kebermanfaatannya, bukan kemevvahannya.

Monggo, jalani 3 hal itu di atas. Semoga dari situ kalian bisa membayangkan bagaimana merencanakan untuk kuliah lagi dalam kondisi sudah menikah. Hal – hal tersebut di atas bisa juga kok diterapkan ke manajemen keuangan rumah tangga popular – uang suami ya uang istri, uang istri ya uang istri. Nah, 3 hal tersebut di atas itu menjembatani rencana studi lanjut kita nih. Kalo kita udah terbiasa menerapkan hal – hal tersebut, kita juga pasti terbiasa merencanakan dan memprioritaskan sesuatu. Masih belum terbayang tuh gimana merencanakan kuliah pas kita udah nikah? Yakin belum kebayang nih?

Kalo udah terbayang gimana nyusun rencananya, kalian bisa skip baca bagian yang ini. Tapi kalo belum juga terbayang, monggo lanjutin mbacanya, gue bisa bantu kalian dengan tips – tips berikut :

  1. Merencanakan secara rinci

Semuanya kita rencanakan, mulai dari program studi, biaya kuliah, lama kuliah, fokus studi, tesis, kemungkinan mendapat beasiswa, pilihan membawa keluarga selama studi atau menjalani long distance marriage. Sebisa mungkin, serinci mungkin kita merencanakan studi lanjut kita, dan di sini kita harus melibatkan keluarga kecil kita dalam rencana kita. Maksudnya, kita mencocokkan timeline rencana studi kita dengan anggota keluarga kita atau dengan pasangan kita. Lebih fokus, kita merencanakan keuangan rumah tangga kedepannya jika kita melanjutkan studi. Apa kita bisa tetap bekerja, tetap ada income dan pilih program kuliah untuk pekerja? Apa kita bisa menabung sampai nominal tabungan kita cukup untuk membiayai kuliah kita hingga lulus, lalu baru memulai kuliah. Apa kita bisa mencari beasiswa yang memberikan ‘jatah’ untuk keluarga, jadi kita bener – bener fokus studi dan ga perlu kerja? Hal – hal tersebut setidaknya terbersit dalam rencana – rencana kita. Selanjutnya, kita bisa menyusun prioritas – prioritas untuk masa yang akan datang.

  1. Berdiskusi dengan pasangan

Setelah kita selesai merencanakan, kita bisa mulai mendiskusikan wacana – wacana atau chit chat dengan pasangan akan rencana kita melanjutkan studi. Pasangan bisa menerima rencana kita atau ga. Kalo dia bisa menerima rencana kita, kita bisa lanjutkan dengan menjelaskan lebih rinci rencana tersebut. Kalo dia ga menerima, kita bisa menanyakan alasannya apa, dan kita bisa menawarkan solusi – solusi untuk bisa mengatasi alasannya tersebut. Ada perselisihan pendapat selama diskusi itu sangat wajar, karena kita punya pemikiran masing – masing toh. Malah ini merupakan pertanda baik, karena kita sedang melakukan komunikasi terbuka. Yang penting dari perdebatan ini adalah kita bisa saling mengerti dan berproses untuk  menerima sekaligus menghargai pendapat masing – masing dari kita.

  1. Menjalani aktivitas dengan komitmen penuh

Selesai dengan diskusi, ini artinya kita bisa mulai melakukan kesepakatan yang kita tentukan selama diskusi tersebut. Dalam menjalanankan kesepakatan bersama ini, kita pastinya kudu berkomitmen dong ya, biar kita bisa meminimalisir adanya riak – riak perselisihan dalam rumah tangga. Misalnya, dari hasil diskusi itu kita sepakat menjalani long distance marriage, ya kita kudu berkomitmen sama pasangan. Kita kudu ngatur ketemuan secara fisik. Kita kudu jaga komunikasi online maupun offline, bukannya malah nyari kesempatan buat z-e-l-i-n-g-k-u-h. Jangan loh ya, bahaya banget itu.

Semoga postingan ini bermanfaat ya buat kalian. Monggo share ke siapapun yang mungkin membutuhkan share tentang ini. As always, sharing is caring~

Credit picture is here

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s