Konsep Kepemimpinan Suku Dayak

image

Masih membahas tentang Kota Palangka Raya. As we know, mayoritas penduduk Kota Palangka Raya bersuku Dayak, dengan sub suku yang bermacam – macam. Gue pengen sedikit memperkenalkan konsep kepemimpinan Suku Dayak yang sangat khas, dan pas banget kita teladani di masa sekarang. Pastinya, konsep ini bisa kita aplikasikan di kehidupan kita, dari manapun asal kita dan dimanapun kita tinggal.

Kali ini gue mengutip buku Konsep Kepemimpinan Suku Dayak Khususnya di Daerah Kalimantan Tengah, karya Nila Riwut. Beliau adalah putri dari Tjilik Riwut, salah satu pahlawan nasional yang berasal dari Kasongan, Kalimantan Tengah. Tujuan gue nulis ini, selain yang udah gue sebutin di atas, gue tu sekedar mengingatkan kita akan nilai – nilai luhur yang ada dalam budaya yang perlu dicontoh dan dilestarikan. Kadang kita terbuai akan kemajuan zaman, ampe lupa sama asal muasal dan budaya kita dari mana dan seperti apa. Gue emang bener- bener hanya menulis ulang konsep kepemimpinan Suku Dayak ini dari bukunya Nila Riwut, karena gue ga mau merusak sedikitpun nilai yang disampaikan oleh Tjilik Riwut dan ditulis oleh Nila Riwut ini. Gue pastinya ga menulis ulang semua isi bukunya, karena gue bukan tukang ketik. So this is it! Selamat membaca~

1. Mamut menteng

Mamut menteng maksudnya gagah perkasa dalam sikap dan perbuatan. Ia disegani bukan dari apa yang ia katakan, namun dari apa yang telah ia lakukan. Berani berbuat, berani bertanggung jawab. Dalam sikap dan perbuatan selalu adil. Apa yang diucapkan benar dan berguna. Nama baik bahkan jiwa raga dipertaruhkan demi keberpihakannya kepada warganya. Sikap mamut menteng yang dilengkapi dengan tekad isen mulang atau pantang menyerah telah mendarah daging dalam kehidupan orang Dayak. Tidak dapat dipungkiri kenyataan itu sebagai akibat kedekatan manusia Dayak dengan alam. Bagi mereka, tanah adalah ibu, langit adalah ayah, dan angina adalah nafas kehidupan. Dengan demikian kemanapun pergi, dimanapun berada, bila kaki telah berpijak di bumi , takut dan gentar tak akan pernah mereka miliki

2. Harati

Harati berarti pandai. Disamping pandai, ia juga seorang yang cerdik dalam arti positif. Kecerdikannya mampu menjadikan dirinya sebagai seorang pemberi inspirasi bahkan sebagai “the greatest inspirator” bagi warganya. Kemampuan dalam berkomunikasi dengan warganya, keakraban yang tidak dibuat – buat, menjadikan seorang pemimpin suku Dayak memiliki kepekaan yang tajam. Peka maksudnya sebelum peristiwa terjadi, ia telah terlebih dahulu mendeteksi segala kemungkinan yang bakal terjadi di lingkungannya. Mampu membedakan mana yang benar, mana yang salah

3. Bakena

Bakena berarti tampang/cantik, menarik, dan bijaksana. Lebih luas maksudnya inner beauty yaitu ketampanan/kecantikan yang terpancar dari dalam jiwa. Cahaya matanya memancarkan keadilan, perlindungan, rasa aman, dan bakti. Dimanapun berada, ia akan selalu disenangi dan disegani. Semua ini secara otomatis akan muncul apabila segala tugas dan tanggung jawab dilaksanakan dengan ikhlas tanpa pamrih

4. Bahadat

Bahadat maksudnya beradat. Bukan hanya mengerti dan memahami hukum adat dan hukum pali dengan baik, namun nyata terlihat dalam tindakan sehari – hari. Ranying Hatalla atau Allah yang maha kuasa turut serta mengawasi setiap tindakan yang dilakukan oleh para pemimpin, sehingga kendali diri pegang peranan dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya. Berani berlaku tidak adil konsekuensinya hukuman akhirat akan diterima setelah kematian terjadi

5. Bakaji

Bakaji maksudnya berilmu tinggi dalam bidang spiritual. Ia selalu berusaha untuk mencapai hening, serta membersihkan dan menyucikan jiwa raga secara rutin dan berkala. Saat hening adalah saat yang paling tepat untuk berdialog dengan diri sendiri, menata sikap untuk tetap kokoh berpegang pada tujuan agar tidak mudah terombang – ambing. Kokoh kilau sanaman yang artinya sekokoh besi

6. Barendeng

Barendeng berarti mampu mendengarkan informasi juga keluhan warganya. Telinganya selalu terbuka bagi siapapun. Hal ini bukan berarti pemimpin suku Dayak hanya menghabiskan waktunya dengan menerima kunjungan warga untuk berkeluh kesah dan bersilaturahmi dengannya. Tanpa bertemu langsung dengan orang per orang, pemimpin Dayak mengetahui banyak situasi dan kondisi setiap keluarga. Ia telah menyediakan hati dan telinganya untuk menampung dan mendengarkan lalu mengolahnya menjadi bagian dari tugas dan tanggung jawabnya.

By the way, kalian bisa beli buku Konsep Kepemimpinan Suku Dayak ini, atau buku Nila Riwut lainnya langsung di Rumah Tjilik Riwut, Jl. Jend. Sudirman No.1, Palangka, Jekan Raya, Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Buat kalian yang ada di luar Kota Palangka Raya, kalian tanya – tanya aja bisa kirim bukunya ke luar Kota Palangka Raya atau ga via telpon ke (0536) 3225430. Dan, postingan ini ga sama sekali disponsori oleh pihak manapun. Gue pure pengen nulis dan share ini ke kalian biar pengetahuan kita akan negara kita ini makin bertambah. Jadi ga melulu tahu soal Jawa, apalagi cuma kenal Jakarta.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s