Ketika Anak Broken-Home ini Menikah (2)

image

Persoalan bibit-bebet-bobot adalah monster besar yang menghalangi langkah gue untuk menikah. Bukan kali pertama gue dipandang sebelah mata, bahkan ditolak oleh keluarga si calon, entah calon pacar atau calon suami. Bayangin coy, baru aja mau pacaran, gue udah ditolak coba, gegara gue itu anak dari keluarga yang berantakan. Itu serius loh gue hadapi, dan bisa jadi anak broken home lainnya juga mengalami hal yang lebih buruk dari gue.

Apa
iya broken home itu penyakit yang membahayakan? Apa iya anak broken home itu
akan merugikan si pasangan? Apa iya gue mau gitu keluarga gue broken home?

Gue ga menyalahkan satu dua orang ketika gue ditolak itu. Anggapan bahwa anak broken home itu berarti keluarganya ga jelas, kelakuannya buruk, pendidikan moralnya ga bermutu, dan masih banyak lagi, adalah anggapan yang berkembang bertahun – tahun. Bagaikan sihir si Beast yang ga bisa patah, kecuali ada Beauty yang mau mencintainya dengan tulus (tsaaaah ae dah). Adalah hal yang susah juga mengubah mindset orang dalam sekali dua kali ketemu. Monggo baca postingan gue sebelumnya, tentang betapa horornya pelabelan yang diberikan dari mindset buruk para pendahulu kita.

Iya, bener banget. Ketika gue dan Nurdin berencana nikah, buanyaak banget yang kudu dihadapin. Sedihnya, semua itu datang dari keluarga sendiri. Keluarganya Nurdin ada yang bilang gue ini nanti cuma nyusahin aja karena keluarga gue ga jelas. Ada juga nyinyiran keluarganya yang bilang gue ini bikin si Nurdin rugi. Terlepas dari itu semua, gengsi masing – masing orangtua juga memberatkan langkah kita berdua. Seserahan itu harus A, B, C, D. Anak perempuan itu harus bla bla bla. Anak lelaki satu –satunya (alm) ibu itu harus la la la. Pusing banget ga sih ngebayanginnya? Gue cape jiwa raga ngejalaninya.

“A’ Nurdin, kamu nih
kayak ga bisa cari perempuan lain aja”, sedih ga sih dengernya?

Gue cerita tentang apa yang gue alami, bukan karena gue mau buka aib siapapun. Gue mau memberikan gambaran tentang kesulitan yang dihadapi, salah satunya ketika menikah. Sekaligus, melalui tulisan ini, gue berharap anak broken home lainnya itu merasa ga sendiran, kita bisa saling berbagi kekuatan untuk tetap berdiri walaupun dijorogin orang berkali – kali

Bisa ga ya, orang tuh ngeliat orang lain ya dari kepribadian individu itu, bukan karena kondisi keluarganya, bukan karena background pendidikan orangtuanya, bukan karena banyaknya uang yang dimiliki, bukan karena jabatan. Heran aja gitu, kok ya bisa pikiran itu sempit kayak lobang kancing. Sekarang aja kita udah jadi warga dunia loh, ga cuma jadi warga desa A, dan ga cuma jadi warga negara C. Tolonglah perkaya asupan neuron otak kita dengan pengetahuan dan pemahaman yang luas. Anak dari keluarga broken home itu ga mau orangtuanya cerai, ga mau juga keluarganya ancur minah kayak piring pecah, ga mau loh kita ini nangis tiap hari karena diejek orang. Mati – matian anak broken home itu membangun rasa percaya dirinya lagi, menciptakan penerimaan diri, mencari pemahaman tentang kondisi dan apa solusi yang harus dia berikan pada dirinya sendiri.

Terus darimana gue dapet keberanian untuk membina rumah tangga padahal gue ga punya role model rumah tangga yang bahagia? Pertama, gue dapet dukungan yang luar biasa dari pasangan gue sendiri. Dia ga ikut – ikutan judge gue. Dia ga goyah walaupun gue udah lemah karena berbagai masalah. Bahkan, dia membela gue dan posisi gue di hadapan keluarganya. Saran gue, lo kudu cari pasangan yang bener- bener mencintai lo, dan lo juga cinta sama dia. Penting juga buat cari pasangan yang berpikiran terbuka dan moderat. Kesian banget idup lo kalo cuma dihabiskan bareng orang yang kolot sejak dari pikiran. Kedua, gue dapet dukungan dari temen – temen terdekat gue. Gue salut banget sama mereka. Walapun mereka ga ada di keadaan yang sama kayak gue, mereka tetap ga mandang gue sebelah mata. Mereka tetep kasih gue tempat buat curhat, walaupun mereka ga tau apa solusi terbaik buat maslah – masalah gue. Cari deh temen – temen yang baik, yang ga ngajak lo nyimeng biar lo ngerasa masalah lo ilang. Masih banyak kok
orang yang baik di dunia ini, seriusan. Ketiga, gue dapet keberanian dari buku – buku dan halaman – halaman web yang gue baca. Gue cari referensi dari manapun tentang pengalaman membina keluarga, hubungan seksual, cara mengatur finansial, baby care dan lainnya yang berkaitan dengan rumah tangga.

Ketika semua yang biasanya mendukung lo itu ga mampu bikin lo berdiri lagi, sujudlah. Berduaan dengan Tuhan adalah obat penenang yang paling mujarab. Semangat terus ya, wahai kalian, anak broken home!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s