Ketika Anak Broken-Home ini Menikah

Menikah ini sebenarnya tahapan hidup yang lumrah dialami oleh setiap orang, tak terkecuali gue. Ketika sudah bertemu dengan orang yang dirasa tepat, menikah menjadi goal setiap pasangan. Kemudian apa yang membedakan esensi pernikahan bagi anak broken home?

image

Jawabannya adalah sulit. Ya, memutuskan untuk menikah adalah hal yang sulit dilakukan oleh kami, anak dari keluarga broken home. Beberapa orang bilang, yang broken itu hanya hubungan orangtua aja, keluarganya mah masih aja bisa dianggap utuh. Tapi buat gue, efek dari rusaknya hubungan orangtua itu berkepanjangan, dan mempengaruhi pemikiran gue ketika berkeputusan untuk menikah. Itu tergantung individu masing – masing sih, tergantung juga seberapa buruknya hubungan orangtua. Kalo lo punya kondisi yang sama dengan gue, atau lo ini anak broken-home yang lagi galau nikah, lo bisa nih baca tulisan gue sampe selesai. Buat lo yang berasal dari keluarga normal pun, monggo baca tulisan gue juga, lumayan kan nambah khasanah pengetahuan.

Gue ga paham kenapa orangtua gue dulu itu menikah kalo akhirnya saling melukai satu sama lain, bahkan juga melukai anak – anaknya. Bokap gue selingkuh berkali – kali. Dia janji juga berkali – kali ke gue kalo dia bakal berubah, tapi ya tetep aja dia begitu. Nyokap gue cuma bisa marah –marah, tapi kadang merasa ga punya kekuatan buat ngelawan. Dia cukup merasa patriarki harusnya tegak berdiri, kalo ada komponen patriarki yang tidak dilakukan oleh bokap gue, itu artinya salah. Bokap gue pun merasa sok kuat dalam kerasnya sistem patriarki. Bokap ga pernah tau gimana bagi tugas dalam rumah tangga, nyokap selalu nuntut apapun dalam rumah tangga. Ya, bener banget, tidak ada kesetaraan gender dalam rumah tangga orangtua gue. Mungkin, orangtua lo juga masih mengimani patriarki, dan lo sebenernya menghadapi kesulitan juga kan tumbuh dan berkembang dalam budaya ini.

Contohnya gini deh, banyak buanget yang masih berpikiran bahwa, ‘lelaki ya harusnya kerja buat mencukupi kebutuhan rumah tangga’, ‘perempuan ya di rumah aja, ngurusi sumur, dapur, dan kasur’, ‘mosok lelaki nganggur? Gunanya apa jadi lelaki?’, ‘istri tuh harus manut apa kata suami, harus hormat, dan tunduk’, daaaan masih banyak lagi pelabelan yang secara sadar atau tidak kita berikan kepada perempuan dan lelaki. Pada akhirnya, pelabelan ini memberikan ketimpangan. Sebenernya, si lelaki A itu orangnya halus, pembawaanya kalem, eh tapi oleh masyarakat dia dibilang kemayu dan kayak banci. Kenapa hal itu bisa terjadi? Karena lelaki dilabelkan sebagai manusia yang harus tegas, berkarakter kuat, dan harus bisa memimpin. Lalu apa yang terjadi karena pelabelan ini? Banyak lelaki yang sok kuat, juga banyak perempuan yang sok lemah. Banyak orang yang menjalani hidup untuk memenuhi ekspektasi orang lain. Kenyataannya? Ya ga semua orang bisa dipakein baju dengan ukuran yang sama, karena setiap orang itu spesial! Setiap orang itu punya potensi, kelebihan, kekurangan yang harus kita hargai.

Oke, kita balik lagi ke pembahasan orangtua gue yak. Bertahun – tahun gue nyari penyebab orangtua gue berantem tiap hari. Hampir tiap hari gue mempertanyakan alasan bokap gue selingkuh. Kok ya mereka tega banget gitu menciptakan suasana ga menyenangkan buat anak –anaknya. Gue berkali – kali nyesel kenapa gue dilahirkan ke keluarga seperti ini. Tapi, emang gue bisa gitu milih gue mau lahir di keluarga yang seperti apa? Kan ga lah ya. Seumur – umur gue ga pernah tau gimana rasanya hidup tentram dan bahagia dalam keluarga yang utuh dan orangtua yang rukun. Gue ga punya role model rumah tangga yang bisa jadi referensi gue. Itulah kesulitan yang gue hadapin ketika gue memutuskan untuk menikah. Hingga di penghujung tahun 2015 gue iseng aja ikutan volunteering agenda di salah satu NGO di Yogyakarta, yaitu Rifka Annisa. Dalam volunteering agenda itu, para relawan dibekali ilmu tentang kesetaraan gender, dan dinamika di dalamnya. Melalui pelatihan itu lah, gue bisa menjawab pertanyaan – pertanyaan gue sendiri. Jawaban yang gue dapetin itu intinya adalah orangtua gue ga punya pengetahuan tentang berbagi peran, dan ada salah kaprah tentang pemahaman gender. Berangkat dari pemahaman baru itu, gue memberanikan diri untuk membuka diri dan pikiran selebar – lebarnya.

Di tahun yang sama, gue ketemu Nurdin, lelaki pertama (dan yang terakhir, cieeee) yang nunjukin gue betapa indahnya hubungan dibangun atas dasar kesetaraan, kasih sayang, dan ketulusan. Dari dia, gue belajar bahwa setiap manusia itu pantas untuk dihargai dan punya hak untuk aktualisasi diri. Bahwa setiap manusia adalah unik dan punya warna tersendiri. Dari hubungan yang kita jalani, gue paham gimana caranya saling melengkapi itu. Kita berdua independen, saling menghargai kelebihan dan kekurangan masing – masing. Begitulah gue memaknai kesetaraan gender. Ga serta – merta gue menyatakan diri gue adalah seorang feminis, lalu orientasi seksual gue harus lesbian. A
feminist is not a lesbian at the first place. Buktinya gue menjalin hubungan dengan lelaki dan menikah pun dengan lelaki.

Seiring berjalanannya waktu, gue menyadari bahwa belum tentu lelaki lain bisa menerima gue dengan keadaan gue yang broken-home ini. Begitupun yang dia rasain ternyata, belum tentu perempuan lain bisa menerima keadaan dia. Kita diuji sekian kali oleh kondisi Banyak banget emang yang kita berdua udah lewati bareng, dalam senang dan sedih. Gue makin yakin Nurdin adalah orang yang tepat untuk mendampingi gue dalam kerasnya kehidupan di dunia ini. Dan kita memutuskan untuk menikah. Apa yang terlintasi di pikiran lo ketika gue dan Nurdin memutuskan untuk menikah? Mudahkah? Sulitkah?

Monggo baca juga Ketika Anak Broken-home ini Menikah (2) yaaaaa

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s