25

Halo semuanya, udah hampir setahun ya gue ga nulis di tumblr.
Bismillah dah yak, mulai sekarang gue berkomitmen nulis tiga kali seminggu,
atau at least 1 kali seminggu. Anyway, apa saja kah yang berubah dari gue
selama setahun ini? Hoho,,,check it out!

29 januari, yang mana itu adalah bulan lalu, gue memasuki usia seperempat abad. Rasanya? Indescribable feeling dah. Menjelang bertambah usia itu, gue melalui berbagai macam emosi yang baru aja gue alami. Setiap tahun, bahkan setiap detik kita bisa aja bakal kehilangan sesuatu atau mendapatkan sesuatu, atau bisa jadi juga kedua hal tersebut terjadi dalam waktu yang sama. Gue merasakan itu semua di sepanjang menuju usia 25.

image

Ditambah lagi, entah kenapa gue menjadi semakin selektif dan mempertanyakan segala hal. Urusan milih temen, milih sikap, milih jalan keluar, milih kerjaan, dan banyak yang lainnya. Gue sempet berpikir, apa iya orang tu makin tua makin males? Apa iya orang tu makin tua makin ga mau ambil resiko? Apakah menjadi tua itu membosankan? Dalam kontemplasi panjang itu, gue mempertanyakan setiap aspek hidup gue, dan ga semua pertanyaan yang gue ajukan itu bisa gue jawab sendiri. Kadang beberapa pertanyaan itu dijawab oleh waktu, melalui kejadian yang harus gue lewati. Misalnya, gue pernah mempertanyakan ‘kenapa sih pasangan yang LDR itu tetep bisa ngerasain cinta?’. Padahal banyak loh, yang cerita cintanya kandas karena jarak. Gue dan A’ Nurdin sempet LDR selama 3 bulan, and it was sooooo hard. Tapi, entah kenapa gue dan Aa malah makin pengen cepet nikah (we’re married now, btw), rasa sayang kita makin nambah, rasa percaya satu sama lain itu makin kuat. Tiap detik kita bisa telponan atau videocall itu kerasa berharga banget. Masalah yang kita hadapi malah bikin kita makin kuat. Dan gue nemuin bahwa itu bisa terjadi karena komitmen yang gue dan Aa miliki.

Gue ga tau apakah yang gue rasakan dan gue alami itu adalah proses pendewasaan diri. Perubahan lain yang gue alami yaitu gue yang tadinya ekstrovert, makin kesini malah makin introvert. Gue cerita ya ke orang yang beneran deket banget ama gue, atau kalo gue lagi ga mau sharing ke orang ya gue simpen sendiri aja. Gue juga ga peduli dengan urusan orang, unless si orang itu cerita ke gue. Padahal mah, dulu KEPO nya ga ketulungan. Gue ngerasa terbelakang gitu kalo ga tau ada apa ama si orang ini, si orang itu, si orang anu. Bukan empati atau simpati gue yang berkurang, tapi gue mikir ‘ah ya itu kan idupnya, dia punya otak punya perasaan, bisa lah nyelesein urusan sendiri. Pun kalo dia ga bisa, dia pasti nyari bantuan’.

Lo ngalamin hal yang sama ga sih? Kalo iya, share dong di comment section. Siapa tau kita samaan, atau ternyata yang lo semua lewatin lebih berat dari gue.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s