Loving and Still Counting

Meeting you was fate, becoming your friend was a choice, but falling in love with you is beyond my control

image

Tahun lalu di bulan yang sama, aku sedang berada dalam satu ruang kantor yang sama dengannya. Tertarik? Naksir? Ga ada sama sekali. Siapa yang bakal suka sama orang yang kerjaannya mojok cuma menghadap laptop seharian tanpa basa – basi ngobrol dengan rekanan lainnya? Kaku, hemat bicara, tukang demo, kutu buku, old style – fashion.

Tahun ini di bulan yang sama, aku pun sedang berada dekat dengannya. Masing – masing mengerjakan hal yang disukai. Masing – masing mendengarkan musik yang berbeda. Masing – masing berkutat dengan pikiran yang tak sama. Aku ekstrovert, dia introvert. Aku sering bicara, dia rajin membaca. Aku lucu, dia kaku. Bacaanku humoris, bacaannya berbau filosofis.

Dua kepala dijadikan satu itu bukan hal yang mudah. Jalan yang dilewati untuk menjadikan aku dan dia menjadi kita juga sulitnya bukan main. Tawa, tangis. Suka, duka, sulit, bahkan sembelit (loh kok jadi sembelit, kurang serat kayaknya). Ya, semuanya kami lewati.

Dan kita pun masih menapaki setiap waktu ini bersama. Mungkin selintas terlihat indah, tapi tetap terjal juga.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s