Kekerasan dalam Pacaran

Apakah selama pacaran itu, kamu merasakan :

  • Tidak nyaman bergaul dengan teman lain karena pacar cemburuan?
  • Tidak bisa mengikuti kegiatan karena dilarang pacar?
  • Tidak bisa menolak permintaan pacar?
  • Kamu merasa dimanfaatkan pacar dari sisi keuangan?
  • Kamu dianggap remeh dan bodoh?
  • Kamu dianggap sebagai objek kemarahan dan objek seksual?
  • Kamu dipaksa berpelukan, berciuman, hingga berhubungan seksual?

Jika mayoritas jawabannya YA, maka kamu telah mengalami kekerasan dalam hubungan pacaran.

image

Apa itu kekerasan dalam pacaran (KDP)?

Pacaran sebenarnya merupakan hubungan antara laki-laki dan perempuan yang bertujuan untuk saling mengenal secara lebih dekat sebelum masuk ke gerbang pernikahan. Namun, dalam pacaran terkadang sering terjadi konflik yang berujung pada tindak kekerasan. Kekerasan ini akibatnya merugikan salah satu pihak. Kekerasan pada masa pacaran atau biasa disebut kekerasan dalam pacaran (KDP) adalah kekerasan yang dilakukan di luar hubungan pernikahan yang sah (berdasarkan UU Perkawinan No. 1/1974 pasal 2 ayat [2]) yang dilakukan oleh pacar atau mantan pacar, suami siri atau mantan suami siri atau pasangan hidup. Bentuk kekerasannya bermacam – macam, seperti; memaksa, membatasi pergaulan, memanfaatkan secara materi, mengingkari janji untuk bertanggung jawab, memaksa aborsi, berselingkuh, dan menghina. Sehingga, mengakibatkan kesengsaraan, baik secara fisik, psikis, seksual dan ekonomi kepada korban.

Bagaimana kita mengenali KDP?

Ternyata KDP memiliki bentuk kekerasan yang khas lho, seperti; ingkar janji menikahi, pemkasaan aborsi, tidak bertanggung jawab terhadap kehamilan dan lain sebagainya. KDP biasanya bermula saat salah satu pihak mulai memaksakan kehendak pada pasangannya. Sehingga, yang terjadi pada saat pacaran hanya saling menuntut. Tidak ada usaha untuk saling mendiskusikan persoalan atau bergantian memahami kebutuhan/kehendak pasangannya. Kalau sudah begini, biasanya pacaran hanya diisi dengan bentrok dan bertengkar saja. Nah cara yang biasa dilakukan oleh pelaku agar pasangannya tetap berada di bawah kendalinya, adalah mengungkapkan bahwa semua yang ia lakukan merupakan bentuk perhatian, kasih sayang, dan cinta. Padahal, sebebnarnya hal tersebut adalah bentuk kekerasan karena membatasi ruang gerak pasangan secara berlebihan.

Note : Diterbitkan oleh Rifka Annisa atas dukungan UNTF (United Nations Trust Fund- to end violence against women). Tulisan ini dibuat untuk menyebarluaskan informasi dari pihak terkait.

Selanjutnya, Kekerasan dalam Pacaran (2)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s